Akhirnya WHO Nyatakan Wabah Ebola di Kongo Berakhir

Akhirnya WHO Nyatakan Wabah Ebola di Kongo Berakhir

Wabah Ebola kedua terburuk dalam sejarah telah berakhir, demikian dideklarasikan WHO pada Kamis, setelah hampir berlangsung dua tahun dan tercatat ada 2.280 kematian.

Upaya untuk memerangi wabah di Kongo timur terhambat ketidakpercayaan masyarakat, perselisihan antara pejabat pemerintah, serangan terhadap fasilitas perawatan kesehatan dan munculnya hotspot baru. Pengumuman itu disampaikan ketika negara itu bersaing dengan epidemi campak terbesar di dunia serta pandemi virus corona. Ini adalah wabah Ebola ke-10 yang diketahui di Kongo.

Direktur Regional WHO Afrika, Dr Matshidiso Moeti, mengatakan perang melawan virus ebola ini tak mudah. "Kadang nampak seperti misi yang mustahil. Akhir wabah Ebola ini sebagai pertanda harapan bagi wilayah ini dan dunia, bahwa dengan solidaritas dan ilmu pengetahuan serta komitmen, bahkan epidemi yang paling menantang sekalipun bisa dikendalikan," jelasnya, dilansir dari The New York Times, Jumat (26/6).
Wabah Ebola ke-10 dideklarasikan pada 1 Agustus 2018, dan telah menginfeksi sedikitnya 3.463 orang di Provinsi Kivu Utara, Kivu Selatan, dan Ituri.

Pada Juli 2019, wabah ini ditetapkan sebagai darurat kesehatan dunia dan menjadi wabah Ebola terburuk sejak wabah muncul di Afrika Barat antara 2014 dan 2016 menginfeksi 28.616 orang dan menewaskan lebih dari 11.000 orang di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.

Namun di saat para tugas kesehatan berupaya menghentikan virus, kelompok pemberontak menyerang pusat pengobatan Ebola, membakar kendaraan dan bangunan. Badan kemanusiaan seperti UNICEF dan Doctors Without Borders mengevakusi tim mereka dan menghentikan pengobatan.

WHO mencatat 420 serangan fasilitas kesehatan, menewaskan 11 orang dan 86 terluka.
Penyebaran informasi palsu tentang Ebola juga menghambat upaya untuk memerangi epidemi. Anggota masyarakat mencurigai para pejabat dan lembaga kemanusiaan yang mereka yakini memanfaatkan penyakit ini untuk membunuh mereka atau meraup untung. Banyak yang tinggal jauh dari pusat-pusat kesehatan percaya bahwa penyakit itu tidak ada - mempersulit upaya untuk melacak atau mengobatinya.

Tetapi para ahli mengatakan belajar untuk bekerja dengan anggota masyarakat dan memahami kebutuhan mereka sangat penting dalam mengatasi penyakit ini.

"Salah satu pelajaran paling penting yang diambil adalah perlunya untuk terlibat, bekerja dengan dan mendukung masyarakat agar berpengetahuan luas dan diberdayakan untuk melibatkan peran mereka," kata Dr Moeti.